Tampilkan postingan dengan label Kopi Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kopi Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2012

Ternyata hati nurani itu masih ada




Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi contoh bagi warga lainnya.

Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.

"Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga di indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia seperti ini.

Kamis, 20 Oktober 2011

Aku Terpaksa Menikahinya.....

Kisah inspiratif untuk para istri dan suami

Husbands Dream
Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/ 

Rabu, 17 Agustus 2011

Bendera setengah tiang di hari kemerdekaan

Senin pagi tanggal 15 Agustus 2011, saya dan isteri berangkat ke kantor pagi-pagi dan karena terburu-buru saya tidak sempat memasang bendera menjelang peringatan hari kemerdekaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Di tengah jalan, isteri menelpon bibi pembantu di rumah untuk segera memasang bendera di depan rumah. Setelah seharian di kantor maka saya dan isteri-pun pulang dan sesampai di depan rumah ternyata disuguhi pemandangan yang menarik. Bibi pembantu saya memang sudah memasang bendera di depan rumah tapi yang berbeda adalah tidak dipasang satu tiang penuh tetapi hanya setengah tiang.......... Saya dan isteri kaget campur geli melihat pemandangan tadi, dan saya baru ingat tahun lalu-pun ternyata bibi saya juga melakukan hal yang sama tapi keburu ketahuan karena isteri ada di rumah. Yang parah baru kali ini karena dipasang seharian penuh dalam keadaan setengah tiang. Bibi saya tidak segera mengetahui “kesalahan” tadi karena memang tidak ada “contohnya” karena sepanjang gang di rumah saya tidak ada satu-pun yang memasang bendera. Atau apakah pengibaran bendera setengah tiang tadi bukan suatu “kesalahan” tetapi adalah salah satu cara bibi pembantu saya dalam memaknai kemerdekaan yang belum dia rasakan..?
Peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia dari tahun ke tahun saya rasakan memang semakin berbeda dan makin kehilangan makna. Peringatan dan perayaan yang mengiringi setiap kali kita merayakan HUT RI sudah semakin jarang dilaksanakan bahkan untuk sekedar mengibarkan bendera di depan rumah juga sudah lebih banyak yang tidak melakukan daripada yang melakukan. Tidak ada lagi himbauan atau pengumuman yang menggugah kesadaran kita untuk sekedar melakukan pekerjaan yang sederhana jika dibandingkan dengan perjuangan bangsa ini jaman dulu yaitu mengibarkan bendera di depan rumah.   Orang sudah semakin lupa bahwa ada sejarah panjang dan penting yang telah dilewati bangsa ini yang dilakukan oleh para pendiri dan bapak bangsa serta para pejuang.  Butuh pengorbanan yang tidak main-main harta bahkan nyawa untuk mengibarkan sang merah putih sebagai lambang kemerdekaan.
Kemerdekaan memang bisa dimaknai sebagai kebebasan dari segala bentuk penindasan. Kalau jaman dahulu diartikan sebagai kebebasan dari penindasaan bangsa penjajah maka sekarang terjadi pergeseran nilai dan lebih luas untuk memaknainya. Kebebasan dan kemandirian di berbagai bidang kehidupan yang menyangkut hak azazi manusia seperti kemandirian di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, kebebasan berpendapat, kebebasan dan kemudahan memperoleh lapangan pekerjaan, memperoleh layanan kesehatan yang terjangkau, memperolah pendidikan yang menjangkau segala lapisan masyarakat dengan biaya yang murah dan sebagainya, itulah yang sekarang dimaknai sebagai kemerdekaan.
Jika melihat apa yang terjadi dan dialami, dilihat, dirasakan oleh sebagian besar masyarakat dan bangsa Indonesia ini  dalam kehidupan berbangsa, maka memang patut kita simpulkan bahwa bangsa ini memang belum sepenuhnya merdeka. Lihat betapa banyak kejadian yang melukai hati masyarakat dipertontonkan dimedia massa. Kasus korupsi yang  menyedot trilyunan rupiah uang negara seperti sengaja diambangkan, koruptor yang sudah jelas-jelas bersalah dibiarkan menikmati kebebasan, kasus lumpur Lapindo yang harusnya menjadi tanggung jawab swasta malah diambil alih negara dengan mengeluarkan duit APBN, korupsi berjamaah para anggota DPR/DPRD mengambil duit APBN/APBD, ngototnya pimpinan DPR untuk membangun gedung baru tanpa memikirkan alangkah eloknya jika dana tersebut digunakan untuk pendidikan atau pembangunan infrastruktur Belum lagi kasus TKI yang dihukum pancung tanpa ada perlindungan dari pemerintah, angka kemiskinan yang semakin tinggi, angka kriminalitas yang makin meningkat, biaya kesehatan dan pendidikan yang semakin tinggi dan masih banyak lagi.  
Jika itu yang menjadi ukuran kemerdekaan berbangsa, maka bangsa ini memang belum mempunyai kemandirian. Tetapi apakah hal tersebut akan membuat kita menafikan perjuangan para bapak bangsa dan pendiri bangsa ini? Tentu jawabannya adalah TIDAK.... Kegagalan untuk memperoleh hak-hak sebagai manusia Indonesia adalah kegagalan dari pemerintah dan negara untuk menyediakannya dan wujud kegagalan negara dalam mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan. Tetapi kesadaran berbangsa dan kebanggaan menjadi warga negara harus tetap kita pupuk dan perjuangan mengisi kemerdekaan harus diteruskan sampai terwujud keinginan dan cita-cita para pendiri bangsa yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur. Jangan sampai kita mengibarkan bendera setengah tiang setiap hari kemerdekaan.
Selamat merayakan HUT RI ke 66.........

Minggu, 07 Agustus 2011

Tetaplah ridho walaupun tangan menggenggam bara

Dering suara hape memecah kehenngan malam, ternyata telepon dari sahabat lamaku yang sudah kuanggap saudara karena kami sudah berteman dari kecil, sekolahpun kami satu sekolah hanya berbeda waktu kuliah. Setelah saya menikah dan pindah ke Jakarta, tali silaturahmi kami tidak pernah putus, hampir setiap hari kami selalu berkirim kabar, ngobrol dari masalah yang ringan dan yang lucu sampai masalah pribadi. Hape kuangkat dan dari seberang sana terdengan suara yang tidak seperti biasanya, dia yang biasa ceria dengan cerita yang mengundang gelak tawa kami berdua, kali ini terdengar lemas dan lirih nyaris tidak terdengar..."Mbak...aku di rumah sakit, aku keguguran...". Saya kaget karena baru beberapa minggu kemarin dia bercerita dengan gembiranya telah hamil setelah sekian tahun belum dikarunia anak. Doa dan berbagai upaya telah dia lakukan bersama suami untuk memperoleh momongan, cara medis dari dokter di Indonesia maupun di luar negeri serta pengobatan alternatif telah mereka coba. Doa dan usaha mereka baru dijawab oleh Allah SWT setelah hampir 11 tahun pernikahan mereka dengan kehamilan sahabat saya tersebut. Namun ternyata cobaan belum berhenti, dia belum diberi kesempatan untuk diberi titipan seorang buah hati pernikahan mereka .


Saya teringat dengan kisah di buku La Tahzan karya Dr.'Aidh al-Qarni yang menceritakan tentang seseorang kaya raya dari Bani 'Abs yang keluar rumah berhari-hari hanya untuk mencari untanya yang hilang. Dia tinggalkan anak, isteri dan kerabatnya di rumah mewah di lembah di tepian sungai daerah Bani 'Abs yang tidak pernah terpikirkan kalau bencana bisa datang kapanpun. Dan bencana itupun datang. Allah mengirimkan air bah yang menerjang bukit dan apapun yang dilewatinya termasuk rumah dan keluarganya. Semuanya habis tidak berbekas.


Setelah berhasil menemukan untanya dia kembali ke lembah tempat tinggalnya dan betapa terkejutnya karena tidak ada satupun yang pernah dimilikinya baik anak, isteri, keluarga maupun hartanya yang dia temukan, semuanya musnah. Sungguh suatu musibah yang menghancurkan. Tidak berhenti sampai disitu, unta yang berhasil dia temukan lepas begitu saja, dia kejar untanya namun justru dia ditendan dan mengenai matanya hingga buta. Dia berteriak kesakitan dan berharap ada orang yang menolongnya untuk membawanya ke tempat yang teduh. Setelah beberapa hari ada seorang pedagang yang kebetulan lewat dan menolongnya membawa kepada Khalifah di Damaskus. Orang inipun menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya. Khalifah itupun bertanya : "Lalu bagaimana sikapmu.....?". Jawab si Bapak : "Saya ridho kepada Allah..". Sebuah kalimat yang sangat agung.


Ridho atau ikhlas adalah sesuatu yang tidak semua orang bisa menerimanya atau menjalaninya. Kita mungkin bisa dengan mudah melafalkannya karena keadaan yang membuat kita harus berkata ridho dalam arti hanya sekedar lisan yang terucap. Tetapi ridho yang benar-benar keluar dari hati sehingga mempengaruhi tindakan kita yang mendukung "rasa" ridho tersebut, bukanlah perkara yang mudah. Hanya dengan berlandaskan iman kita bisa menciptakan atau menimbulkan "rasa" ridho tadi. Iman bahwa semua kejadian atau peristiwa yang menimpa kita adalah kehendak Yang Maha Kuasa, iman bahwa semua yang kita jalani sudah diatur oleh Allah SWT, iman bahwa semua kejadian pasti ada hikmah yang tersembunyi.


Kita sering menyaksikan peristiwa bencana alam, musibah atau kecelakaan yang merenggut jiwa, harta maupun mengalami sendiri cobaan yang ringan sampai berat, namun ternyata masih banyak yang belum bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Dengan menimbulkan rasa ridho di hati kita yang benar-benar keluar dari lubuk hati, Insya Allah sepahit apapun semua cobaan maupun ujian yang kita hadapi bisa lebih ringan kita lalui.


Untuk sahabat dan saudaraku, semoga tetap tabah menjalani segala cobaan dan ujian hidup ini. Percayalah kesedihan itu tidak akan abadi seperti juga kesenangan tidak akan lestari.


Sumber Inspirasi : La Tahzan

Minggu, 31 Juli 2011

Keteladanan seorang lelaki rembulan

Pak Ida namanya, seperti nama seorang perempuan memang, tapi Pak Ida adalah laki-laki renta yang telah mengarungi pahit getirnya kehidupan di dunia ini selama lebih dari 75 tahun. Dia menjalani kehidupan yang keras ini dalam kesendirian karena dia hidup tanpa isteri maupun sanak saudara yang seharusnya mengelilingi dan menemaninya di usianya yang telah senja. Pak Ida memang tidak pernah menikah sampai umur merambati tubuhnya yang kian renta dimakan waktu. Orangnya kecil dengan guratan garis wajah yang menunjukkan lamanya waktu yang telah menemaninya. Sabar, ramah dan senang cerita terutama kepada anak-anak maupun orang yang ditemuinya. Pak Ida tinggal sebatang kara di rumah sederhana di kampung yang bersebelahan dengan komplek perumahan saya. Meminjam itilah dalam lyrik lagu Franky Sahilatua, lelaki dan rembulan, Pak Ida adalah seorang lelaki rembulan yang hanya diam seribu bahasa dalam memandang kesendiriannya. Dia tetap tegar menjalani hidup dengan kesederhanaannya, dia jalani kehidupannya dengan ikhlas.
Setiap pagi, dengan langkah perlahan karena kaki-kakinya sudah tidak sekuat dan seperkasa saat masih muda dulu, Pak Ida selalu melewati depan rumah sambil membawa alat musik gesek tradisional dan memainkan lagu-lagu sunda atau lagu daerah lainnya menuju ke “tempat kerjanya” di pasar dekat rumah. Dia memang tidak mempunyai pekerjaan tetap untuk  sekedar membeli makanan untuk mengganjal perut setiap hari, oleh karena itu dia “mengamen” atau lebih tepatnya melakukan “road show” dengan alat musiknya.  Pak Ida tidak pernah berhenti di depan rumah orang untuk mengharapkan si empunya rumah memberikan uang receh seperti pengamen “tradisional” pada umumnya.  Pak Ida justru melakukan “road show” kepiawaiannya memainkan alat gesek dengan berjalan di gang-gang perumahan tidak peduli apakah orang akan memberi uang atau tidak......Dia berjalan dan terus berjalan menuju ke “kantornya” sambil menikmati alunan musik yang dia mainkan sendiri dan hanya berhenti jika ada yang memanggilnya untuk diberi sekedar uang receh sebagai pengganti suara merdu alat musiknya yang telah dimainkannya atau berhenti di pos kamling untuk menghilangkan rasa capek. Dan begitu uang pengganti telah diterimanya, maka doa keselamatan, kesejahteraan dan kemudahan rizqi akan keluar dari mulutnya dipersembahkan kepada orang yang telah memberikan dia uang sekedarnya tadi.
Satu hal lagi yang membuat Pak Ida menjadi manusia yang “berbeda” dari orang lain adalah sikapnya yang masih mau memberikan uang hasil jerih payahnya kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Saya yakin tidak banyak orang yang sanggup untuk berbuat seperti yang Pak Ida lakukan....jangankan dalam kondisi tidak punya dan serba kekurangan, dengan kondisi yang bergelimpangan harta kekayaan dan serba berkecukupan-pun masih ada orang yang tidak rela untuk berbagi.
Tiga hari yang lalu saya mempunyai keinginan untuk berbincang-bincang dengan Pak Ida. Saya merencanakan akan mencegat Pak ida di hari Sabtu di depan rumah karena  saya ingin mengetahui lebih dalam mengenai sosok bapak tua satu ini. Namun rencana tinggallah rencana, sabtu pagi tadi bibi pembantu saya yang kebetulan tetangga Pak Ida menyampaikan berita kalau Pak Ida sudah pergi menghadap kepada Sang Khalik pada hari Jum’at kemarin......... Innalillahi Wainailaihi Rojiun.
Selamat jalan Pak Ida .................